Thursday, November 16, 2006

Investor Belum Mendapat Kepastian

Kebijakan Pemerintah dalam rangka mempercepat pelaksanaan pembangunan infrastruktur belum ampuh untuk bisa “meminang” investor.


Oleh TJ. Bono


PEMBENAHAN kelembagaan, dan regulasi, yang dilakukan Pemerintahan SBY-Kalla untuk mendorong masuknya investasi di bidang infrastruktur memang telah mendapat penilaian positif. Salah satunya, datang dari Andrew Steer, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia.

Hal tersebut, kata Steer, terlihat dari dikeluarkannya Peraturan Presiden (Perpres) No.65 Tahun 2005 tentang Komite Kebijakan Percepatan Pembangunan Infrastruktur (KKPPI)/, dikeluarkannya Perpres No.67 Tahun 2005 tentang Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur, dan Perpres No.65 Tahun 2006 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum.

Setidaknya, “mantra” Pemerintah sudah mulai kena di hati lembaga keuangan. Namun, pembenahan kelembagaan dan regulasi tersebut belum bisa dibilang ampuh. Sebab, kata Wakil Presiden Bank Pembangunan Asia C Lawrence Greenwood, perlu dipastikan apakah kebijakan yang belum lama dibuat itu sudah betul-betul dilaksanakan. Terlebih lagi, jika mentalitas birokrat belum berubah.

Lawrence mengusulkan adanya pola pikir yang baru dari birokrasi pemerintah, dan supaya para birokrat meningkatkan kapasitasnya. Selain itu, manajemen resiko juga diatur sedemikian rupa secara transparan, efisien, dan hati-hati.

“Yang terakhir, pemerintah harus menciptakan kepastian bagi investor,” kata Lawrence seperti dikutip Kompas (2/11).

Kepastian, seperti yang dinantikan Lawrence, juga dinantikan pula oleh Dimitri Pantazarus, Regional Director of Investment EMP Bahrain. Dalam pameran Indonesia Infrastructure Conference and Exhibition (IICE), seolah mewakili para calon investor dari dalam dan luar negeri lainnya, Dimitri mengungkapkan “kerinduan” mereka akan adanya kepastian dari pemerintah. Calon investor meyakinkan Pemerintah bahwa mereka tidak sedang basa-basi. Ada keinginan untuk menggarap proyek yang ditawarkan.

“Kami berada di sini (IICE-red) karena tidak kehilangan kepercayaan pada Indonesia,” ujar Dimitri. Sebab katanya menyimpulkan, Indonesia mempunyai peluang yang fantastik dalam proyek infrastruktur, sekaligus kebutuhan sangat besar untuk itu.

Memang, menurut Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto, pada hari pertama pameran infrastruktur itu dibuka, sedikitnya tiga calon investor sudah menyatakan minat dan keinginannya pada beberapa proyek yang ditawarkan Departemen PU. “Yang tertarik memang banyak sekali, yang sudah membuat studi dan nota kesepahaman juga banyak, tetapi yang harus dilakukan adalah mengikuti lelang terbuka,” ujar Kirmanto.

Akan tetapi, belum ada kata sepakat. Calon investor masih menunggu kepastian. “Jadi posisinya investor berminat, tetapi mereka menunggu sampai kita selesai dengan pekerjaan rumah kita,” timpal Sofjan Wanandi Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia.

Pekerjaan rumah pemerintah, antara lain, soal kepastian pembebasan lahan dalam proyek jalan tol, kepastian rencana proyek kelistrikan, jaminan pemerintah atau pembagian resiko dalam proyek kelistrikan, koordinasi antara departemen dan PLN sebagai Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan, perbedaan aturan di setiap daerah dalam proyek air minum, kejelasan kebijakan gas untuk domestik dan ekspor, dan dihilangkannya duopoli oleh BUMN.

*

PEMBANGUNAN infrastruktur sebagai strategi penggerak perekonomian sejak lama telah diyakini oleh Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Pada masa krisis ekonomi dunia tahun 1930-an, pemerintahan di negara-negara tersebut menerapkan strategi itu, untuk menggerakan roda ekonomi.

Strategi itu pula yang dilakukan oleh China pada saat ini, dan sedang dicoba oleh pemerintah Indonesia. Seperti disebut di awal tulisan ini, pemerintah telah mengeluarkan regulasi dan melakukan pembenahan kelembagaan terkait soal investasi di bidang infrastruktur.

Akan tetapi, kata ekonom Didik J Rachbini, persoalannya adalah, apakah implementasi strategi dan kebijakan investasi di bidang infrastuktur yang telah dibuat pemerintah itu akan bisa berjalan efektif di lapangan? Didik berpendapat, regulasi dan pembenahan kelembagaan yang dibuat pemerintah sudah cukup memadai, cukup komprehensif. Namun, itu baru sebatas konsep. “Masih berfungsi seperti blue print saja, yang perlu tindak lanjut manajemen pemerintahan di lapangan,” ujarnya (Kompas, 10/11).

Dicontohkan olehnya, pembangunan jalan tol menuju Bandara Surabaya yang sampai saat ini belum rampung juga. Terjadi praktek percaloan dalam pembebasan lahan di sana, sehingga harga tanah melonjak tinggi, disebabkan ulah para pihak yang tidak bertanggung jawab. “Jika dahulu terjadi pemerasan kepada rakyat, sekarang sebaliknya. Negara menjadi mandul dan tidak mengembangkan fungsi publiknya secara baik,” tandas Didik.

Contoh lainnya, masih di wilayah Jawa Timur, dalam pembangunan jalur selatan, jalan yang menghubungkan Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Pemerintah Kabupaten Malang berupaya keras melakukan pembebasan lahan, namun upaya tersebut tidak didukung oleh kinerja pemerintahan pusat. “Pembangunan tersebut (akhirnya) terhenti,” ungkap Didik.

Jadi, kata Didik, kini saatnya bagi pemerintah untuk bergerak dalam tataran praktis strategis, bukan lagi di tataran konsep. Cetak biru pembangunan infrastruktur sudah cukup memadai, cukup komprehensif, tinggal masalahnya pada implementasi. Di sisi lain, seluruh elemen bangsa juga wajib mendukung apa yang sudah diupayakan pemerintah.

Dalam pameran infrastruktur IICE 2006 yang berlangsung selama 3 hari (1-3 November 2006), ditawarkan 10 model proyek senilai 4,4 Miliar dolar AS. Disamping itu, pemerintah juga menyiapkan 101 potensi proyek lain senilai 14,7 Miliar dolar AS. Proyek yang ditawarkan, antara lain, jalan tol, kelistrikan, pemipaan gas, transportasi, dan telekomunikasi.

Presiden SBY menekankan bahwa dalam beberapa tahun ke depan, pemerintah membutuhkan sekurangnya 22 Miliar dolar AS untuk pembangunan infrastruktur sektor energi, jalan, pelabuhan, bandara, perumahan, air bersih, dan lainnya. Pendanaan proyek-proyek tersebut, kata Presiden, sebagian besar akan berasal dari swasta.

“Saya telah menginstruksikan semua menteri yang terkait dengan persiapan dan implementasinya untuk memastikan proyek berjalan dari awal sampai selesai secara lebih profesional dan transparan, serta menguntungkan bagi semua pihak,” kata Presiden kepada para wartawan.

Namun demikian, “mantra-mantra” untuk membuat para investor jatuh hati, mau berinvestasi di negeri ini, masih perlu disempurnakan. Masih terlalu dini untuk mengatakan, “ini sudah cukup.”

*

CERITA di bawah ini kiranya dapat membuka mata para pengambil kebijakan investasi. Agung Pambudi Direktur Eksekutif Komite Pemantau Pelaksanaan Otonomi Daerah bertutur, dalam acara Indonesia Regional Investment Forum (IRIF) di Jakarta awal November lalu, sejumlah gubernur dan bupati dengan bangga menginformasikan tentang situs internet (website) milik daerahnya. Mereka juga berkali-kali meminta investor asing dan nasional agar selalu mengakses situs-situs itu untuk mendapatkan data lebih lengkap.

“Selang satu jam kemudian, situs internet milik belasan pemerintah daerah itu coba diakses. Hasilnya, sungguh menyedihkan. Data potensi yang disajikan sangat makro dan rata-rata dikeluarkan tahun 2002-2004,” ungkap Agung.

Dari cerita di atas, pemerintah daerah sepertinya menganut asas “nafsu besar tenaga kurang”. Mereka ingin sekali menjaring investor, menawarkan potensi daerahnya, tetapi data dan informasi yang disajikan sangat jauh dari harapan pelaku usaha.

Agung menambahkan, ada pejabat daerah yang mengatakan, “Kami memiliki potensi ikan yang luar biasa.” Akan tetapi ketika diminta menjelaskan, pejabat tersebut tidak dapat menguraikan secara menyeluruh mengenai potensi tersebut.

Dua pekan sebelumnya (pertengahan Oktober 2006 –red) saat mengikuti pameran investasi yang digelar Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Makasar, Agung juga menemukan kasus serupa.

“Ada penjaga gerai yang tidak mampu menjelaskan setiap pertanyaan pengunjung. Dia katakan bahwa dirinya sebatas menjaga gerai. Mereka yang punya potensi investasi tidak pernah berada dalam gerai,” ungkap Agung (Kompas, 9/11).

Dari sedikit cerita di atas, kiranya kita dapat mencermati apa-apa yang harus dibenahi dan dilengkapi untuk dapat membawa masuk investor ke negeri ini. Bicara di tataran konseptual saja tidaklah cukup. Investor itu bak gadis cantik jelita yang sedang diperebutkan pemuda-pemuda kurang tampan lagi miskin. Jadi, butuh usaha keras untuk sukses bersaing meminangnya.
***

Heboh Alihkerja ke Dunia Ketiga

Dalam banyak kasus, praktik alihkerja (outsourcing) sukses meningkatkan kualitas sekaligus memangkas biaya. Beberapa ekonom bahkan menyatakan, alihkerja adalah sebentuk inovasi teknologi, analog dengan penggunaan mesin di lini perakitan mobil.


Oleh Arief Irwan Maulana



SEJAK belasan tahun silam, banyak kaum muda keturunan China yang meminjam nama-nama Barat seperti Jerry atau John. Tapi, tak demikian dengan orang-orang India. Kebanyakan mereka masih memakai nama-nama tradisional: Rahul atau Rajiv. Jika ada yang menggunakan nama-nama bule, meski hanya di jam kerja, bisa dipastikan ia adalah staf call center. Menurut Thomas L. Friedman di The World is Flat, idenya adalah menjalin "kedekatan" dengan para pelanggan yang kebanyakan berasal Amerika atau Eropa.

Ada sekitar 245 ribu penduduk India yang menjadi staf call center. Mereka bekerja untuk perusahaan-perusahaan Amerika Serikat yang mengalihkerjakan (outsource) divisi layanan call center ke India. Mungkin mereka harus menjawab soal kartu kredit yang tak bisa digunakan atau tagihan telepon selular yang membengkak di luar perkiraan—tergantung perusahaan tempat mereka bekerja.

Alihkerja kini memang tengah menjadi tren di AS. "Para profesional jasa dan teknologi berpendidikan tinggi di sana mesti bersaing dengan barisan lulusan perguruan tinggi dari India, China, dan Filipina yang bersedia bekerja dua kali lebih keras dengan upah hanya seperlima," tulis BusinessWeek.

Motif utama kebanyakan perusahaan adalah memanfaatkan selisih upah buruh antara negara industri dan negara berkembang. Kesepakatan outsourcing ini sering diiringi pemutusan hubungan karyawan secara besar-besaran. Pada 2005, IBM memecat 15 ribu karyawannya di AS. Dan, sebagian besar disebabkan pekerjaan mereka dipindahkan ke India.

India menjadi tujuan utama alihkerja. Lihat, seperti dilansir Associated Press, baru-baru ini, IBM membuka 3.000 posisi baru di bidang teknologi informasi (TI) di Calcutta, India, khususnya untuk pengembangan dan pemeliharaan peranti lunak. Calcutta merupakan pusat TI lain yang dimiliki India setelah Bangalore.

Buat IBM, India adalah pasar dengan pertumbuhan cepat sekaligus tempat mengumpulkan tenaga-tenaga berbakat berbiaya rendah. Para pekerja itu harus dimanfaatkan IBM untuk mengempang "amukan" para pesaing asal India yang mulai menggerogoti pasar raksasa tersebut. Di negeri Mahatma Gandhi itu, staf IBM telah melonjak dari 9.000 menjadi 43.000 orang hanya dalam kurun waktu kurang dari tiga tahun terakhir. Armada ini merupakan yang kedua terbanyak setelah jumlah pekerja di AS.

Ranah hukum juga tak luput dari terjangan gelombang alihkerja. DuPont, raksasa industri kimia itu, menjalin kerja sama dengan OfficeTiger, firma hukum kondang di Filipina. Para pengacara dan staf di kantor-kantor OfficeTiger membantu belasan proyek, mulai dari memonitor kontrak-kontrak lama dan melisensi berbagai kesepakatan sampai mengatur bukti dokumen untuk kasus-kasus produk cacat.

“Kami ingin menjadi pusat terbaik untuk manajemen dokumen luar negeri,” kata Assistant General Counsel DuPont, Thomas L. Sager pada BusinessWeek.

Sebagian besar pekerjaan mereka menjenuhkan: mengubah dokumen yang berusia puluhan tahun menjadi file digital dan diberi indeks. Tapi, sebagian lain menuntut aspek penilaian. Sebagai contoh, menentukan apakah suatu dokumen relevan untuk suatu kasus atau melanggar kerahasiaan. Proyek terpenting adalah mengolah 2 juta halaman dokumen untuk kasus DuPont melawan 10 pihak. DuPont ingin mendapatkan kembali lebih dari $100 juta kompensasi untuk ribuan bekas pemasang pipa, pegawai insulator, mekanik, dan pekerja-pekerja lain yang mengklaim penyakit mereka adalah akibat asbestos di fasilitas-fasilitas DuPont.

Dengan mengalihkan ke luar negeri, DuPont hendak menghemat 40% sampai 60% anggaran dan mengurangi sampai $6 juta dari belanja hukum tahunan yang lebih dari $200 juta. Mereka juga berharap mampu memotong waktu berbulan-bulan yang biasanya dibutuhkan untuk proses pengadilan.

Contoh lain adalah alihkerja di bidang kesehatan. Di Inggris, lembaga National Health Service memutuskan untuk mengirim sampel darah dan urin untuk dites di laboratorium di Mumbai, India. Ini juga demi memangkas biaya. Namun, praktik ini hanya untuk situasi non-darurat, hasilnya tak ditunggu dalam waktu 48 jam atau kurang. Laboratorium 24 jam di Mumbai akan segera menjalankan tes begitu sampel itu tiba. Rumah sakit-rumah sakit National Health Service akan menerima laporan dalam waktu 24 jam kemudian.

Fakta berbicara, dalam banyak kasus, praktik alihkerja sukses meningkatkan kualitas sekaligus memangkas biaya. Beberapa ekonom bahkan menyatakan, alihkerja adalah sebentuk inovasi teknologi, analog dengan penggunaan mesin di lini perakitan mobil. Di sisi lain, alihkerja mendongkrak perkembangan negara-negara tujuan. Mereka berkesempatan belajar dari perusahaan-perusahan mentereng, plus meraup duit yang menurut ukuran mereka di atas rata-rata.

Sejumlah Batu Sandungan

Pro dan kontra juga menyelimuti gelombang alihkerja. Pertama, soal hambatan bahasa—ini terutama untuk lini call center. Benar bahwa para staf call center adalah orang-orang terpilih: mahir berbahasa Inggris. Setelah itu, mereka menjalani sejumlah pelatihan. Tapi, para pengritik menyatakan, harus diingat bahwa bahasa Inggris buat mereka bukan bahasa ibu, bahasa pertama. Kesalahan masih sangat mungkin terjadi. Jika begini, kepuasan pelanggan dipertaruhkan.

Serangan kedua berasal dari kalangan politisi. Pada pemilihan presiden AS 2004, kampanye para kandidat juga menyinggung soal alihkerja. Namun, titik pokoknya bukan penurunan mutu pelayanan pada pelanggan, melainkan terancamnya para pekerja AS. Para politisi pantas menghiraukan. Lembaga poling A Zogby International melaporkan bahwa 71% pemilih yang menjadi responden percaya bahwa alihkerja mencederai perekonomian negara. Sementara itu, pada poling yang berlangsung Agustus 2004 itu, 62% pemilih menganjurkan pemerintah AS agar mendesak lembaga legislatif agar membuat regulasi untuk meminimalisasi praktik alih. Misalnya, menerapkan pajak yang tinggi untuk perusahaan-perusahaan yang mengalihkan sebagian pekerjaaannya ke luar Amerika.

Isu keamanan menjadi batu sandung ketiga. Yaitu, betapa riskannya menggelontorkan informasi penting dan sensitif ke pihak luar. Pada April 2005, sebuah kasus menjadi pergunjingan hangat. Seorang staf call center Citibank di India meraup $350.000 dari nasabah bank tersebut. Caranya adalah dengan meminta password nasabah bersangkutan, memasuki rekening, dan memerintahkan transfer uang tersebut ke sebuah rekening tak dikenal—dibuat staf itu untuk memuluskan aksi kejahatannya.

Keterlambatan penanganan menjadi risiko berikutnya. Ini juga terjadi atas DuPont saat bekerja sama dengan OfficeTiger. Jika OfficeTiger tersandung dan tak bisa menyiapkan bukti sebelum Desember 2006, ketika persidangan kasus asbestos dimulai, DuPont potensial merugi jutaan dolar. Tapi, jika OfficeTiger menyuguhkan hasil seperti diharapkan, perubahan besar dalam industri jasa hukum AS yang senilai $225 miliar niscaya berlangsung. Maka, departemen legal DuPont menjadi pelopor dalam penghematan sejak awal 90-an. Mereka menghemat lebih dari $100 juta dengan otomatisasi, alihkerja, dan mengurangi jumlah firma hukum luar yang dipakainya.

Bagaimana pun, gelombang alihkerja mustahil dibendung. Gergasi semacam Procter & Gamble (P&G), DuPont, Dell, IBM, ABN Amro, dan Unilever telah menandatangani kesepakatan alihkerja. Nilai kontrak mereka mencapai miliaran dolar. Sebagai contoh, pada 2004, produsen obat Wyeth Pharmaceuticals memindahkan seluruh operasi pengujian klinis mereka ke Accenture Ltd di India. Sementara itu, P&G, dalam tiga tahun terakhir, telah mengalihkerjakan hampir semua hal, mulai dari prasarana TI dan SDM sampai manajemen kantor-kantor mereka.

Buat Indonesia, kesempatan sejatinya masih terbuka lebar. Problemnya, segesit dan secerdas apa kita menangkapnya?

***

Membanjirnya Produk China

“Dunia menciut ketika China tumbuh,” kata Ted C.Fishman penulis buku China Inc. Ketika perekonomian global mengalami lesu darah, China justru tumbuh pesat. Mengapa?


Oleh Sholahudin Achmad


BARANG-BARANG berlabel made in China ada dimana-mana, membanjiri setiap toko di seluruh dunia, dewasa ini. Perusahaan-perusahaan China, dengan sistem kepemilikan yang rumit, juga sedang sibuk menemukan komoditas-komoditas yang bisa dijiplak seperti aslinya, untuk kemudian diproduksi massal dan dijual dengan “harga banting”. Lalu, sumber-sumber energi yang tertanam di perut bumi, dari segala penjuru dunia, dikejar oleh perusahaan-perusahaan minyak China untuk dibeli.

Tak ayal, Ted C.Fishman, seorang wartawan dan mantan pialang, yang tulisannya tersebar di majalah The New York Times, USA Today, Harper’s, Esquiere, menyimpulkan, “dunia menciut ketika China tumbuh.”

“China,” kata Ted dalam bukunya China Inc. (2006), “mempengaruhi kehidupan kita sebagai konsumen, karyawan, dan warga negara. Bangsa itu menghasilkan lebih banyak pakaian, sepatu, mainan anak-anak, dibandingkan dengan yang dihasilkan oleh bangsa manapun di dunia.”

Belakangan ini, China naik ke tangga teknologi, dengan memproduksi barang-barang elektronik, mulai dari TV, DVD player, hingga ke ponsel dan komputer. Bahkan, China juga memproduksi suku cadang Boeing 757, memproduksi roket buatan sendiri untuk berpesiar ke ruang angkasa, dimana sebelumnya, tak kalah ketinggalan, China juga membuat produk otomotif.

Bukan cuma memproduksi untuk keperluan dalam negeri, China justru sedang mendominasi perdagangan dunia. Tentu saja, itu menjadi masalah bagi negara-negara lain. Sebab, selain China menggeser dominasi negara-negara produsen yang sudah terlebih dulu mapan, perusahaan-perusahaan China pun agresif membeli saham-saham perusahaan multinasional.

Sekedar contoh, pada Desember 2004, perusahaan Lenovo, produsen komputer nomor satu di China, berhasil memborong saham IBM seharga 1,75 miliar dolar AS. Kemudian, meski tak sukses, pada musim panas 2005, perusahaan minyak China National Offshore Oil Corporation mencoba menawar Unocoal, perusahaan minyak AS yang punya cadangan minyak sangat besar di kawasan Asia, dengan harga 18,5 miliar dolar AS.

Dominasi dan agresivitas China tersebut, ya, membuat Amerika Serikat ketakutan. Tak ayal, Kongres AS pada tahun 2005 dengan gigih memperdebatkan soal tarif dan larangan terhadap barang-barang China. Para wakil rakyat di negeri Paman Sam tersebut, kata Fishman, berupaya menghambat perusahaan-perusahaan China memasuki percaturan merjer dan akuisi di negeri mereka, seraya memperingatkan bahwa di masa mendatang militer China akan menjadi ancaman buat mereka.

Di Indonesia, dominasi barang-barang produksi China pun terjadi. Namun, baik Pemerintah maupun DPR, belum bereaksi serius seperti yang dilakukan oleh Kongres AS. Baru-baru ini, Kepala Biro Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan, mengumumkan, bahwa China mendominasi pasar impor Indonesia, menandingi Jepang dan AS.

“Secara perlahan tetapi pasti China menguasai pasar impor Indonesia. Barang yang diimpor terutama adalah barang-barang konsumsi, jarang sekali impor dari China yang berupa bahan baku,” kata Rusman (Kompas, Kamis, 2/11).

BPS mencatat, lima barang impor terbesar yang diimpor dari China berupa mesin dan perlengkapan elektronik (seperti TV, radio, AC), buah-buahan, sayur dan akar-akaran, barang plastik berupa mainan, dan kimia organik. Nilai impor nonmigas China, pada September 2006, berjumlah 525,5 juta AS. Bandingkan, nilai impor China dengan nilai impor Jepang di Indonesia.

Masih dari data BPS, disebutkan bahwa nilai impor Jepang nilainya 434,2 juta dolar AS. Atau, terjadi penurunan sebesar 26,74 persen, sejak Januari hingga September 2006. Padahal, selama ini barang-barang Jepang yang mendominasi Indonesia.

Dominasi perdagangan China, kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sofjan Wanandi, menjadi peringatan tentang pentingnya upaya melindungi pasar Indonesia.

"Standar nasional itu mesti benar-benar diberlakukan. Harmonisasi tarif juga penting. Sampai sekarang masih kacau balau, mana yang mau kita proteksi nggak jelas. Semuanya jadi peluang memasukkan barang ke pasar Indonesia, baik legal maupun ilegal," kata Sofjan (Kompas, 3/11).

Dominasi tersebut, lanjutnya, terjadi di tengah melemahnya daya saing produk dalam negeri.

"Bagaimana mau berkompetisi kalau daya saing kita memang lemah. Infrastruktur nggak bagus atau malah nggak ada. Kita bayar bunga lebih tinggi, high cost ekononi, komponen masih impor, kita cuma jadi tukang jahit saja," kata Sofjan bernada gusar.

Kegusaran itu bukan hanya dirasakan Sofjan. Sebab, dunia pun memang sedang gusar oleh kemajuan China. Sebuah negara komunis yang semula sangat tertutup dan miskin oleh politik ”tirai bambu”, Marxisme ala Mao Tse-Tung itu, kini sedang membuka diri, bergerak menjadi negara produsen raksasa yang perlahan tapi pasti akan menggusur dominasi perdagangan Jepang dan Amerika Serikat di seluruh dunia.

Sekali sang raksasa melangkah masuk ke dalam persaingan produksi, konsumen di seluruh dunia meresponsnya dengan cukup baik. Apa yang disukai konsumen di seluruh dunia mengenai barang-barang China, adalah harganya yang super murah. Dengan ”harga China” itu, Negara komunis itu mengajarkan kepada musuh-musuhnya, masyarakat kapitalis dunia, mengenai cara melakukan penghematan. Sehingga, perlahan tapi pasti, pandangan konsumen mengenai harga produk kini dibentuk oleh barang-barang buatan China. Inilah pelajaran yang sangat berharga.

Namun, pelajaran dari China ini berarti dapat menciutkan lapangan kerja di negara-negara produsen yang sudah lebih mapan. Pasalnya, upah buruh yang mahal. Dengan permintaan konsumen agar setiap barang yang diproduksi harganya adalah ”harga China”, maka pabrik-pabrik yang memproduksi barang tersebut mau tidak mau akan memindahkan alat-alat produksi mereka ke China yang upah buruhnya murah. Barang dengan ”harga China” tentu saja tidak mungkin dibuat di Amerika Serikat yang standar upah tenaga kerjanya tinggi. Atau, di Jepang, Eropa, maupun negara-negara lain.

”Sesuatu yang lebih mencemaskan bagi Amerika dan negara-negara lain adalah gambaran masa depan, ketika produksi pindah secara besar-besaran ke China dari segala penjuru, termasuk dari Amerika Serikat,” kata Fishman dalam bukunya.

Pasalnya, China kini mampu memproduksi mobil, truk, pesawat terbang, kapal laut, jariangan telpon, kapal selam, satelti, dan roket. Padahal, produk-produk tersebut merupakan industri yang dipertahankan mati-matian oleh AS. Mulai kini, patut dicamkan bahwa China bukan lagi sebatas produsen mainan anak-anak!

Suatu jajak pendapat terhadap tenaga kerja pabrikan di Amerika belum lama ini mengungkapkan bahwa sepertiga pekerja merasa khawatir pekerjaan mereka akan dipindahkan ke luar negeri tanpa keikutsertaan mereka. Walaupun hanya satu diantara delapan pekerjaan di AS ada di pabrikan, namun jumlah lapangan kerja pabrikan yang hilang di sana (antara tahun 2000 hingga 2003) melampaui jumlah seluruh pekerjaan yang hilang karena sebagian kecil orang yang baru menganggur telah dipekerjakan kembali ke sektor jasa.

Dalam kurun waktu tersebut, kata Fishman, kemungkinan kehilangan pekerjaan di sektor pabrik mencapai 50 kali lebih tinggi daripada kehilangan pekerjaan dalam perekonomian yang lebih besar secara keseluruhan.

Forrester Research, sebuah lembaga riset di AS, tiga tahun silam memprediksikan bahwa sebanyak 830 ribu orang Amerika akan kehilangan pekerjaannya pada akhir tahun 2005, yakni, ketika perusahaan-perusahaan Amerika memindahkan lapangan pekerjaannya ke luar negeri, dan 3,3 juta lainnya akan menyaksikan pekerjaan mereka dipindahkan ke luar negeri pada tahun 2015. Sementara Golden Sachs, bank investasi dunia, memperkirakan ada 6 juta lapangan kerja akan meninggalkan AS pada tahun 2014.

Sementara AS ketakutan akan lonjakan pengangguran akibat perpindahan pabrik, China malah bertumbuh pesat. Sejak reformasi yang dilakukan, ekonomi negara itu tumbuh 9,5 persen, suatu pencapaian yang berlipat ganda hampir tiga kali lipat lebih. Nicholas Lardy dari Institute for International mencatat, China tumbuh sangat pesat terutama pada 2001 dan 2002, saat perekonomian dunia mengalami kelesuan.

Menurut Research Institute for Economy Trade and Industry, lembaga Jepang, salah satu alasan mengapa China tumbuh pesat perekonomiannya, adalah karena sejak 1978 ada aliran modal yang deras masuk ke Negara itu. Sepertiga produksi industri China berjalan karena adanya setengah triliun dolar AS yang disuntik dari negara-negara asing ke sana. Uang yang masuk tersebut, disertai pula dengan tenaga-tenaga ahli asing ke sana. Alhasil, pada tahun 2003 ekspor dan impor perusahaan asing yang ada di China naik lebih dari 40 persen. Sekarang, lebih dari separuh perdagangan China dikuasai perusahaan-perusahaan asing, dan banyak diantaranya mengimpor barang ke negara itu yang kemudian mereka hasilkan menjadi ekspor.

***

UKP3R

Keputusan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membentuk Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi (UKP3R) ditolak keras, sebelum akhirnya dapat diterima. Presiden terkejut, “Banyak pihak bahkan cenderung meletakkan keberadaan UKP3R dalam konteks politik, bukan dalam konteks manajemen pemerintahan,”ujarnya.

Oleh Kenzi Luthfi A.


KATA “reformasi” nyaris tenggelam belakangan ini. Ketika kata itu diangkat lagi ke permukaan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, siapa nyana, sejumlah pihak justru menjadi panik. Adalah Unit Kerja Presiden untuk Pengelolaan Program Reformasi (UKP3R), sebabnya. Tim yang dibentuk Presiden SBY lewat sebuah Keputusan Presiden No.17 Oktober tahun 2006 itu sempat membuat jengkel Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan para politisi pendukung Kalla di Partai Golkar pun meradang. Bahkan, muncul ancaman dari sejumlah pengurus partai tersebut di daerah, untuk menarik dukungan terhadap pemerintahan SBY-Kalla!

Lantas, dengan cepat isu perpecahan diantara Presiden dan Wakilnya menjalar di media massa. Berhari-hari selama sepekan, polemik UKP3R tersebut berlangsung di halaman muka suratkabar-suratkabar nasional. Polemik tersebut lebih bernuansa politis. Padahal, menurut juru bicara kepresidenan Andi Mallarangeng, UKP3R dibutuhkan Presiden untuk memantau dan mempercepat jalannya agenda reformasi. Sementara Presiden sendiri meniatkan pembentukkan tim itu dalam konteks manajerial pemerintahan.

Namun, kubu partai Golkar keberatan dengan tim kerja presiden tersebut. Pertama, karena mereka tak ingin ada koordinasi di dalam koordinasi yang selama ini dilakukan dalam menjalankan roda pemerintahan. “Saya dan Presiden tentu sepakat dalam kabinet itu sudah ada koordinasi yang built in, yaitu saya mengoordinasikan tugas-tugas yang implementatif dan hal-hal yang detail. Sedangkan Menko mengoordinasikan para menterinya sehingga tidak dibutuhkan koordinasi lain dari mereka (UKP3R),” kata Wapres Kalla yang juga Ketua Umum Partai Golkar, usai bertemu Presiden SBY, dalam pembicaraan tertuup soal UKP3R (Kompas, 4/11).

Menurut para pendukung Kalla, di partai berlambang beringin, kehadiran UKP3R bakal mengganggu koordinasi yang sudah ada, mengubah peran Wapres dan Menteri Koordinasi, maupun semua anggota kabinet. Apalagi, Wapres mengaku tidak dilibatkan dalam pembentukkan tim tersebut. Keberatan lain, dikarenakan tim tersebut ketuanya adalah Marsillam Simandjuntak, mantan Jaksa Agung di era Presiden Abdurrahman Wahid, orang yang pernah mengusulkan pembubaran Partai Golkar.

Suhu politik pun meriang. Alhasil, beberapa hari kemudian, muncul berita bahwa UKP3R diendapkan. Pada berita yang lain, muncul kabar bahwa tim yang diisi oleh mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional Edwin Gerungan itu telah dibubarkan. Namun, publik sudah kadung merekam di dalam benaknya, bahwa dwi tunggal SBY-JK pecah. Perpecahan kedua pasangan presiden dan wapres yang dipilih langsung oleh rakyat itu tentu akan berimplikasi pada iklim perekonomian nasional.


*

TERLALU mahal harga yang harus dibayar oleh rakyat, bila duet SBY-JK pecah. Terlebih lagi saat ini, di saat kondisi makro ekonomi mulai membaik, dan Pemerintah sedang berupaya keras mendorong bergeraknya sektor riil, investasi, dan mempercepat pelaksanaan pembangunan infrastruktur. Jika perpecahan itu benar-benar terjadi, maka upaya keras untuk menjaring investor di dalam maupun luar negeri harus dimulai lagi dari titik nol.

Dampak negatif yang bakal terjadi itu rupanya disadari oleh kedua pemimpin nasional kita. Kamis malam 10 November 2006, Presiden SBY menghampiri para wartawan di Istana, untuk memberikan keterangan final mengenai UKP3R. Tidak nampak Wapres Kalla mendampingi, namun itu bukan pertanda perpecahan diantara keduanya. Sebab, dalam keterangan persnya, Presiden SBY justru menepis polemik yang berlangsung menyangkut UKP3R.
“Banyak pihak bahkan cenderung meletakkan keberadaan UKP3R dalam konteks politik bukan dalam konteks manajemen pemerintahan,”ujar Presiden, seraya menjelaskan latar belakang pembentukkan tim tersebut.

Menurut Presiden, Keppres yang dikeluarkannya untuk membentuk UKP3R sudah melalui proses yang panjang, dimana Wakil Presiden dan para menteri dilibatkan dalam pembahasannya. Presiden juga menjelaskan, bahwa Keppres tersebut tidak bertentangan dengan UUD 1945. Sebab, dalam pasal 4 UUD 1945 disebutkan, bahwa Presiden memegang kekuasaan pemerintahan menurut UUD. Menurut Presiden, UKP3R dibentuk dibawah tanggung jawabnya sebagai pemangku kekuasaan pemerintahan.

Dikatakan oleh Presiden, bahwa lingkup tugas dan kewenangan UKP3R sudah diperjelas. Tentu, itu dihasilkan dari kompromi tingkat tinggi dengan Wapres Kalla. Menurut Presiden SBY, pembentukkan UKP3R dengan lima tugasnya adalah bagian dari tanggung-jawabnya sebagai kepala pemerintahan untuk memenuhi janji perubahan kepada rakyat.

Lima tugas UKP3R itu adalah (1) perbaikan iklim usaha/investasi dan sistem pendukungnya, (2) pelaksanaan reformasi administrasi pemerintahan, (3) peningkatan kinerja BUMN, (4) perluasan peranan usaha kecil menengah, dan (5) perbaikan penegakkan hukum.

“Terus terang jika kelima program dan upaya itu tidak berhasil, pembangunan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rakyat, termasuk pencipataan lapangan kerja dan pengurangan kemiskinan, tidak akan berhasil. Wajib hukumnya bagi saya untuk terus mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan program itu,” ujar Presiden (Kompas, 10/11).

Presiden menepis polemik yang mengatakan Wapres tidak dilibatkan. Menurut Presiden, UKP3R berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Dalam pelaksanaan tugas ini, Presiden dibantu Wakil Presiden. “Jadi, Wapres tidak excluded, tetapi included,” kata Presiden.

Selain itu, dikatakan pula mengenai apa yang bukan menjadi tugas UKP3R. Pertama, UKP3R tidak mengambil keputusan dan tidak menetapkan kebijakan pemerintah. Kedua, tidak memberikan instruksi dan arahan kepada menteri dan anggota kabinet. Ketiga, tidak melakukan tindakan investigasi atau pemeriksaan atas hal yang berkaitan dengan masalah hukum seperti korupsi. Keempat, UKP3R bukan “pos politik” dan pejabatnya tidak dalam kategori political appointee seperti menteri, tetapi adalah “pos manajemen” yang menjadi perangkat presiden selaku pemimpin eksekutif tertinggi.

**

WAKIL PRESIDEN Jusuf Kalla, salah seorang Senior ISEI, usai shalat Jumat (10/11) menyatakan polemik mengenai UKP3R sudah selesai, menyusul adanya penjelasan resmi dari Presiden SBY. “Presiden dibantu unit kerja itu tentu wajar saja. Sama dengan saya, ada orang yang membantu di sini,” ujar Wapres Kalla di Kantor Wapres, seperti dikutip Republika (11/11).
Kalla mengakui, bahwa UKP3R merupakan unit kerja teknis yang sepenuhnya menjadi kewenangan Presiden. Dengan demikian, dirinya sebagai Wapres maupun Ketua Umum Partai Golkar tidak lagi mempersoalkan unit kerja tersebut. Oleh karenanya, dia meminta agar polemik mengenai UKP3R disudahi. Dan juga, dia meminta kepada para pendukungnya di Partai Golkar untuk tidak mengungkit-ungkit kembali soal unit kerja tersebut.

“UKP-PPPR bukan bagian (dari) persoalan bangsa yang besar. Dan saya kan Ketua Umum Golkar. Kalau ketua umumnya sudah mengatakan begitu (masalah sudah selesai), masak anggotanya masih bertindak lain,” ujar Kalla.

Para petinggi Golkar dikabarkan sudah dapat menerima keberadaan UKP3R. Terutama setelah menerima penjelasan bahwa UKP3R bersifat internal Presiden dan merupakan ad hoc. Andi Matalatta Ketua DPP Partai Golkar yang juga orang dekatnya Kalla, mengatakan penerimaannya itu. Hal serupa juga dikatakan Wakil Sekjen Partai Golkar Priyo Budi Santoso.

Kearifan dalam menerima keputusan dari pihak-pihak yang berseberangan dengan kita merupakan sebuah modal untuk membangun bangsa. Di tengah kondisi menuju perbaikan ekonomi nasional, rasanya tidak pada tempatnya lagi kita berkonflik untuk masalah-masalah yang tidak substansial.

Semoga saja, keberadaaan UKP3R dapat memperkuat fungsi manajerial pemerintahan, dan bukannya merongrong kewibawaan pemerintah. Kita tunggu.

***

Microsoft vs Google, Perang SDM

Dr. Kai Fu Lee, pakar Microsoft yang membelot ke Google, menulis persamaan matematika tentang alasannya membelot. “Muda + Kebebasan + Keterbukaan + Model Baru + Manfaat Bagi Masyarakat Umum + Kepercayaan = Google.”


Oleh Taufik Salman


KETIKA
Bill Gates sukses dengan sistem operasi Microsoft Windows-nya, seluruh dunia berdecak kagum. Gates telah melampaui apa yang belum pernah dicapai oleh perusahaan piranti lunak komputer di dunia. Sistem operasi Windows menggeser DOS, membuat orang dengan latar belakang keahlian apa pun dengan mudah dapat menjalankan komputer pribadi mereka. Ikon jendela Windows yang dapat diklik membuat orang merasa senang, dan sangat terbantu, dalam menjalankan program-program yang rumit. Microsoft pun menjadi impian bagi para ahli-ahli matematika maupun sarjana komputer yang berharap bisa mengambil bagian dalam sejarah kesuksesan itu, menjadi karyawan Microsoft!

Dari sisi bisnis, itu berarti Microsoft adalah mesin pencetak uang. Terbukti, hingga 18 Agustus 2005, nilai pasar saham Microsoft sebesar 287 Miliar dolar AS. Gates berhasil menempatkan perusahaannya menduduki tangga puncak Amerika Serikat, mengalahkan Wal-Mart yang berada pada urutan kedua dengan nilai saham 197 Miliar dolar AS, disusul Time Warner (85,9 Miliar dolar AS), lalu Google (79,6 Miliar dolar AS).

Namun, seperti kata pepatah, di atas langit masih ada langit. Abad internet membuat Microsoft mengalami masa stagnasi. Kekuasaannya mulai terancam. Siapa nyana perusahaan yang mengancam kedigdayaan Microsoft adalah Google, sebuah perusahaan yang belum 10 tahun usianya, yang didirikan pada 7 September 1998 oleh dua anak muda jago matematika dan komputer bernama Sergey Brin dan Larry Page.

Memang, dari segi produk, maupun pangsa pasar, Microsoft maupun Google berada dalam jalur persaingan bisnis yang berbeda. Kekuatan bisnis dan teknologi dari kedua perusahaan tersebut pun berbeda. Namun sesungguhnya keduanya sedang berada dalam medan tempur yang sama, bersaing merekrut orang-orang tercerdas di dunia. David A.Vise seorang peraih hadiah Pulitzer yang mengamati perkembangan Google, dalam bukunya The Google Story mengatakan hal tersebut.

Pertarungan yang sesungguhnya diantara Microsoft dengan Google, kata Vise, adalah dalam hal merekrut dan mempertahankan orang-orang paling cerdas dari seluruh dunia. “Inilah variabel pokok yang akan menentukan perusahaan mana memiliki kemampuan paling dahsyat untuk mengidentifikasikan dan memecahkan masalah-masalah yang paling diminati dan paling penting di Abad Internet,” ujar wartawan The Washington Post tersebut.

Faktanya, memang terjadi perpindahan orang-orang Microsoft ke Google yang tak bisa dibendung oleh Gates, sejak tahun 2005 lalu. Meskipun Microsoft membentuk sebuah komite khusus di dalam perusahaan itu untuk membendung perpindahan ahli-ahli mereka ke Google, namun komite yang bertugas menyusun laporan “The Google Challenge” itu tetap saja tak berhasil.

“Ribuan berkas lamaran mengalir dalam sehari ke perusahaan mesin pencari ini (Google –red), sedang Microsoft berkutat mempertahankan orang-orang terbaiknya, bahkan sampai menawarkan uang dan kemudahan lebih banyak,” ungkap Vise.

Pada saat Microsoft berjuang keras mempertahankan pakar-pakar terbaik mereka, Google justru merekrut banyak ahli bergelar Ph.D dari universitas-universitas unggulan di AS. Bahkan, Google merekrut sarjana-sarjana dari University of Washington yang notabene adalah universitas yang banyak menerima sumbangan finansial dari Bill Gates.

Tak ayal, Steve Ballmer CEO Microsoft sampai-sampai murka dengan agresivitas Google dalam merekrut orang-orang terbaik di dunia komputer. “Saya harus bisa membasmi Google sampai ke akarnya,” ketus Ballmer.

Namun, ancaman petinggi Microsoft itu tetap tak bisa membendung Google. Hingga musim panas tahun lalu, total karyawan Google sebanyak 4.183 orang, atau meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Pada tahun itu, dalam waktu tiga bulan, Google pernah merekrut 700 karyawan baru, suatu rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya. Google juga membuka cabang baru di Swedia, Meksiko, dan Brasil, serta mempekerjakan orang di lebih dari 20 negara untuk mendukung upaya mereka menandingi Microsoft dalam urusan memperkuat basis sumber daya manusia.

Dr. Kai-Fu Lee merupakan contoh yang paling menampar muka Bill Gates dalam kasus rekrutmen ala Google tersebut. Tahun 1998, saat Google didirikan, Kai-Fu sudah mulai bekerja untuk Microsoft. Ia bertugas membuat Microsoft Research Asia di Beijing, China. Karena prestasinya yang hebat, dua tahun setelah itu Kai-Fu ditarik ke kantor pusat Microsoft di AS. Di sana tugas utamanya menyusun strategi. Kai-Fu juga sering dipanggil Bill Gates untuk membincangkan soal Google dan teknologi mesin pencarian. Tak heran bila dia dibayar 1 juta dolar AS pada tahun 2004.

Nah, pada tahun 2005, terjadilah “bedol kantor” besar-besaran dari Microsoft ke Google. Salah satu tenaga ahli yang ikut dalam rombongan tersebut, adalah Kai-Fu. Ia menjadi musibah bagi Microsoft, namun berkah bagi Google. Kai-Fu yang pada tahun 2004 telah menandatangani kontrak setia selama setahun ke depan dengan Microsoft, yakni ikrar tidak akan pindah ke perusahaan pesaing Bill Gates, tiba-tiba mengundurkan diri untuk bergabung dengan Google.

Tak ayal, para pejabat Microsoft murka. Mulai dari Senior Vice President Microsoft Rick Rashid, CEO Steve Ballmer, hingga Bill Gates sang pemilik perusahaan, mengutuk Kai-Fu.

“Kai-Fu, Steve sudah pasti akan menuntut Anda dan Google atas kejadian ini. Ia telah mengincar situasi macam ini…Kami perlu melakukannya untuk menghentikan Google,” ancam Gates kepada Kai-Fu, seperti ditulis David A.Vise dalam The Google Story.

Ancaman Bill Gates tersebut tak menyurutkan langkah Kai-Fu. Dia memilih Google. Perang terbuka Microsoft vs Google pun dimulai. Kasus itu kemudian dibawa ke pengadilan. Microsoft menggugat Google. Dalam dakwaannya, Microsoft mengatakan Kai-Fu tidak tahu malu melanggar perjanjian, membelot, membocorkan rencana strategis Microsoft. Lalu Google disebut sebagai perusahaan amatiran yang kurang berpikir panjang, tanpa rasa hormat kepada hukum, termasuk dalam hal surat perjanjian kerja.

Pihak Google membantah dakwaan tersebut. “Perusahaan ini (Microsoft –red) berusaha merusak nama baik Kai-Fu Lee tanpa bukti. Pengajuan perkara ini hanya sebuah acara unjuk kekuasaan. Pada dasarnya, eksekutif Microsoft telah mengaku kepada Lee bahwa tujuan mereka yang sesungguhnya adalah menakut-nakuti karyawan Microsoft lainnya agar tetap bekerja di perusahaan itu...,” balas pengacara Google, seraya menegaskan bahwa Kai-Fu bukan dipekerjakan Google sebagai pakar mesin pencari.

Untuk sementara, Hakim Negara Bagian Washington memenangkan Microsoft. Diputuskan bahwa Kai-Fu dilarang terlibat dalam pekerjaan yang terkait dengan mesin pencarian atau rencana Google untuk China. Keputusan tersebut ditolak Google. Mereka naik banding.

**

APA ALASAN
Kai-Fu menempuh resiko hukum, membelot dari Microsoft ke Google? Dalam sebuah website berbahasa China, Kai-Fu menjawabnya dengan sebuah persamaan matematika. “Muda + Kebebasan + Keterbukaan + Model Baru + Manfaat Bagi Masyarakat Umum + Kepercayaan = Google,” tulis Kai-Fu.

Memang, dengan bayaran 1 juta dolar AS dari Microsoft, mustahil rasanya bagi dia untuk pindah kerja ke Google hanya karena gagasan untuk mendapat penghasilan yang lebih besar. Dr.Kai-Fu Lee, tampaknya, terpikat pada budaya perusahaan yang dibangun di Google, sebuah budaya yang dibangun dari budaya penelitian ilmiah, debat akademis, dari civitas akademik di Universitas Stanford AS.

Para pendiri Google, The Google Guys –Larry Page dan Sergey Brin— sejak awal merancang mesin pencarian yang kini digunakan pengguna internet di seluruh dunia itu, memang bukan untuk tujuan mencetak uang. Rajeev Motwani, seorang guru besar Stanford berusia 30 tahun, yang mengikuti sepak terjang Larry Page dan Sergey Brin memberikan kesaksian soal itu.

”Mereka tidak berancang-ancang untuk membangun sebuah perusahaan, tapi mereka serius ketika berusaha menciptakan cara pencarian yang lebih baik,” kata Motwani.

Google dimulai dari gagasan Larry, mahasiswa Ph.D ilmu komputer di Universitas Stanford, soal PageRank, atau sistem pemeringkatan untuk mengindeks data atau informasi yang dicari pengguna internet saat mereka menggunakan mesin pencarian. PageRank adalah “ruhnya” mesin pencarian Google.

Gagasan tersebut ditemukan di tengah jalan, saat Larry mengerjakan sebuah proyek penelitian lain, Digital Libraries Project, di Stanford pada tahun 1996. Proyek perpustakaan digital itu dikerjakan di gedung perkuliahan yang didanai oleh Bill Gates. Proyek itu mengharuskan Larry menjelajahi semua halaman Web yang ada di internet, dengan menggunakan mesin pencarian waktu itu, yang kita juga pernah menggunakannya, yakni Alta Vista, mesin pencarian generasi pertama.

Namun, seperti halnya kita, Larry juga tak begitu terbantu oleh mesin pencarian Alta Vista. Dia mendapati bahwa apa yang dihasilkan dari mesin pencarian itu hanyalah berupa informasi mengenai daftar website yang berhubungan dengan informasi yang dia cari. Seringkali pula, yang dimunculkan adalah informasi yang tidak kita cari, melainkan iklan. Artinya, dengan mesin pencarian ”primitif” itu, Larry banyak menemukan ”sampah” informasi. Akan tetapi di sisi lain, hasil pencarian Alta Vista memberikan informasi lain yang disebut “links”, yakni, daftar informasi yang wujudnya masih belum pasti, alias, pengguna masih perlu mengklik lagi “links” tersebut untuk mengetahui apa isinya.

Larry terpukau pada “links”. Dipikirkan olehnya, bagaimana itu dapat bekerja lebih baik. ”Larry Page ingin menggali lebih jauh ke dalam links guna mengetahui kemungkinan pemanfaatan mereka selanjutnya,” kata Hector Garcia Molina, seorang dosen pembimbing Larry. Namun, untuk mewujudkan keinginan tersebut, Larry harus men-download seluruh World Wide Web yang ada di dunia, disimpan ke dalam komputernya! Sesuatu yang jelas tak mungkin dikerjakan dalam waktu satu-dua malam, dan jelas tak cukup hanya dengan satu buah komputer.

”Siapa pun yang mendengar rencana (Larry) ini akan geleng-geleng kepala,” tambah Molina. Tapi, Larry berkata lain. Dia bertekad untuk melakukannya, tak peduli betapa mustahilnya pekerjaan yang akan menjadi bahan penelitiannya itu. Sebab, ada pandangan visioner serupa yang dikemukakan seorang ilmuwan komputer Inggris Tim Berners Lee, bahwa sebuah klik pada serangkaian kata ber-highlight akan mengantar para pengguna internet yang haus informasi dari dokumen satu ke dokumen lain. Sebab, Web secara keseluruhan sama dengan Links.

Tekad tersebut didukung oleh Sergey Brin, rekan debatnya yang paling kental, seorang anak muda yang sama cerdasnya dengan Larry di Stanford. Juga, didukung Motwani, dosen pembimbingnya, guru besar berusia 30 tahun itu. Tapi, setelah bekerja berbulan-bulan, ternyata men-download seluruh halaman website itu menyita waktu lebih lama dari apa yang dia bayangkan. Selain itu, juga menghabiskan banyak komputer untuk menyimpan datanya.
Meski demikian, proyek “menaklukkan” seluruh halaman Web di dunia internet ini memikat Brin yang jago matematika dan pemrograman. Dia bergabung dengan Larry yang biasanya hanya menjadi teman berdiskusi itu, untuk mengerjakan proyek baru Larry.

Larry berteori sederhana, “menghitung jumlah Link yang menunjuk suatu website merupakan suatu cara untuk memeringkatkan popularitas situs bersangkutan.” Link-link itu mengingatkan Larry seperti sebuah kutipan yang sering dipakai dalam sebuah buku, biasanya dalam catatan kaki atau catatan akhir. Makin sering dirujuk, dikutip, maka kutipan itu maka semakin tinggi peringkatnya, menurut Larry.

”Rujukan itu penting. Ternyata, karya tulis para pemenang Nobel itu umumnya telah dirujuk oleh sekitar 10.000 penulis makalah lain,” kata Larry. Atau, dengan kata lain, sebuah karya ilmiah yang sering dikutip, mengandung arti bahwa, karya itu penting. Sebab, banyak orang lain merasa perlu menyebutkannya.

Prinsip tersebut, lanjut dia, berlaku pula untuk halaman website. Jadi, tambahnya, setiap link itu tidak diciptakan sama. Ada yang lebih penting dari yang lain. Maka, situs-situs penting seperti Yahoo peringkatnya lebih penting dari yang lain, sebab Yahoo sering diklik orang. Teori pemeringkatan link ini oleh Larry diberi nama PageRank. Begitulah, proses penciptaan ”ruh” Google.

Para dosen Larry dan Brin memberitahu, bahwa konsep PageRank ini dapat dijadikan tesis Ph.D mereka. Temuan mereka bermanfaat bagi semua orang yang sedang browsing internet untuk menemukan informasi-informasi spesisifk yang dicari. Mesin pencari dengan konsep PageRank itu kemudian diberi nama BackRub, sebelum akhirnya menjadi Google.

Asal usul nama Google cukup unik, sebelum dipatenkan menjadi sebuah merek dagang. Itu merupakan sebuah kesalahan ketik dari lafal Googol dalam Googolplex yang berarti ”bilangan yang besar sekali”. Namun, karena sudah kadung didaftarkan sebagai google.com, kesalahan itu justru menjadi berkah karena mudah diingat orang. Bahkan, kabarnya saat ini kata google sudah menjadi kata kerja di sejumlah bahasa, termasuk bahasa Inggris.

Google kemudian menjadi sebuah perusahaan pada tahun 1998, dua tahun setelah Larry dan Brin berjuang keras menyusun dan menganalisa links di setiap halaman website. Di sinilah letaknya perbedaan Google dengan perusahaan-perusahaan dotcom lainnya. Sementara perusahaan dotcom berpikir untuk mendapatkan uang terlebih dahulu sebelum membuat suatu produk, Google melakukan sebaliknya. Setelah dua tahun menghabiskan banyak komputer, menganalisa setiap links, halaman web, dan menguras habis isi kantong mereka, barulah terpikirkan oleh Larry dan Brin untuk menjual mesin pencarian Google itu kepada investor.

Dalam fase mencari investor itu pun tidak mudah bagi Google Guys. Mereka pernah menawarkannya kepada pendiri Yahoo, namun ditolak mentah-mentah, dengan alasan perbedaan visi. Yahoo menginginkan orang berlama-lama nongkrong di website mereka, mengklik semua fasilitas dan informasi yang disediakan Yahoo; sementara Google hanya sebuah mesin pencari yang membuat orang justru akan cepat meninggalkannya dan pergi ke situs lain yang mereka cari. Lagipula, perusahaan dotcom yang menyediakan mesin pencarian, sebelumnya, sudah banyak yang bangkrut.

Larry dan Brin juga pernah menawarkan kemungkinan merger dengan Alta Vista, namun ditolak dengan alasan perusahaan induk Alta Vista, Digital Equipment Corp, tidak suka bergantung pada orang dari luar perusahaan. Mereka juga menawarkan kepada perusahaan-perusahaan modal ventura di bidang komputer, namun hasilnya sama, ditolak! Penolakan-penolakan itu membuat kedua anak muda ini nyaris frustrasi.

Setelah mereka berkenalan dengan Andy Bechtolsheim, biang komputer dan investor legendaris dalam sukses sejumlah perusahaan baru, barulah semangat Google Guys meningkat lagi. Pasalnya, tanpa berlama-lama berdebat, Andy langsung menulis cek sebesar 100 ribu dolar AS untuk modal mereka.

”Di kepala saya pada waktu itu, saya hanya membayangkan mereka mungkin bisa membuat jutaan orang menggunakan mesin pencari mereka, memungut uang dari mereka, dan hasilnya berlimpah. Saya tidak tahu akan seberapa besar proyek mereka pada waktu itu. Tak ada yang tahu,” kata Bechtolsheim.

Dari modal pinjaman Bechtolsteim itu mereka kemudian, pada 7 September 1998, membentuk Google Corp. dan menghimpun dana mencapai 1 juta dolar AS untuk mewujudkan impian, menambah jumlah komputer penyimpan data halaman web. Konsekuensinya, mereka berdua cuti dari Stanford, dan semakin melupakan cita-cita orang tua mereka agar meraih gelar Ph.D.
Setahun kemudian pinjaman yang diperoleh dari Bechtolsteim itu habis, dan mereka masih belum memikirkan soal komersialisasi Google. Larry dan Brin masih terus berkutat pada penyempurnaan mesin pencari ciptaan mereka. Dan mereka menikmatinya, sementara orang-orang bisnis dotcom menganggap itu sia-sia.

Lalu, dimulailah era baru Google Guys. Dua juragan investasi yang saling bersaing dari Silicon Valley, yakni Michael Moritz dari Sequoa Capital dan John Doer dari Kleiner Perkins, berhasil mereka yakinkan untuk menyuntik modal baru. Dengan proses yang tak terlalu lama, kedua orang yang berkompetisi itu berhasil disatukan oleh Google Guys dimana masing-masing menyuntik 12,5 juta dolar AS ke perusahaan baru ini. Selanjutnya, atas desakan kedua investor yang telah menyuntik 25 Juta dolar AS tersebut, Google Guys merekrut seorang CEO bernama Eric Schmidt, untuk memikirkan bagaimana perusahaan mencetak uang dari mesin pencari Google.

Sementara Eric bekerja keras memikirkan bisnis Google, Larry dan Brin terus menerus melakukan inovasi, merekrut lulusan terbaik dari universitas-universitas ternama, dan membiarkan orang-orang cerdas tersebut bekerja melakukan penelitian yang mereka minati. Di Google, orang-orang pintar tersebut bekerja dalam tim-tim kecil yang terdiri dari 2-3 orang, dan diberi kebebasan penuh untuk meneliti dan menganalisa apapun, dengan berbasis pada ilmu pengetahuan, bukan bisnis. Tak heran bila kemudian ada Google Earth. Kantor mereka pun dilengkapi dengan sauna, fitnes, kolam renang, biliar, dan koki terbaik yang khusus memasak makanan lezat untuk mereka; sebuah kantor yang tak lazim.

Sekarang ini Google sedang bersiap memasuki sebuah rencana ambisius baru, yang menggabungkan bidang biologi dan genetika, melalui peleburan ilmu pengetahuan, ilmu pengobatan, dan teknologi. Sudah barang tentu, hal itulah yang membuat pakar-pakar cerdas di muka bumi ini, seperti misalnya Dr. Kai-Fu Lee, lebih tertarik bekerja di Google ketimbang Microsoft. Meskipun, Kai-Fu harus berhadapan dengan gugatan hukum karena pilihannya itu.

***

Monday, October 09, 2006

Kremlin remains silent on murder of top journalist

A RUSSIAN newspaper has offered a reward of 25 million roubles ($1.25 million) for information on the murder of its award-winning investigative reporter, as the Kremlin remains silent despite worldwide outrage over the killing.

Novaya Gazeta has opened its own investigation into the murder of Anna Politkovskaya on Saturday. A major shareholder in the bi-weekly newspaper announced the reward.

"As long as there is a Novaya Gazeta, her killers will not sleep soundly," the paper said in a front-page editorial yesterday, its first issue since the killing.

Politkovskaya, 48, was shot in her apartment building as she stepped out of a lift. She was shot first in the chest and then in the head, Russian news agencies quoted police as saying.

The European Union and the US joined Russian politicians, journalists and human rights activists in condemning her murder.

The Kremlin, which Politkovskaya had so often bitterly criticised, remained silent.

Colleagues said she had been murdered because of her reporting. Novaya Gazeta said Politkovskaya had been preparing an article on torture in Chechnya for yesterday's issue.

"She had several important photographs which showed all of this … We have some of her notes and, of course we will partly publish this material," the editor-in-chief, Dmitry Muratov, said on NTV television.

The official investigation was focusing on Politkovskaya's professional activities, a law-enforcement official told ITAR-Tass news agency. Politkovskaya was the 12th journalist to die in a contract-style killing since Vladimir Putin came to power in 2000, said the US-based Committee to Protect Journalists.

Police made public security camera footage showing the chief suspect, a man wearing dark clothing and a dark baseball cap.

Investigators were examining Politkovskaya's body and a nine-millimetre Makarov pistol found at the scene. The journalist's funeral would take place in Moscow today, her newspaper said. Politkovskaya, who had two adult children, was among the last Russian journalists still covering human rights abuses by the armed forces and Chechen militias during the long-running conflict that has devastated the tiny Muslim region.

Her harrowing reportage stood out in a country where, following Mr Putin's rise to power, journalists have all but abandoned criticism of the Kremlin. (Agence France-Presse)

MANUVER HABIBIE

Opini berikut ini dikutip dari Majalah Tempo Edisi. 33/XXXV/09 - 15 Oktober 2006.

Siasat Wiranto

KONTROVERSI buku Detik-detik yang Menentukan karya Bacharuddin Jusuf Habibie belum juga usai. Ini wajar. Buku itu berkisah tentang masa-masa krisis ketika Indonesia sedang mengalami perubahan zaman: perubahan pemerintahan dari rezim otoriter Soeharto menuju era (mudah-mudahan) demokratis. Sebuah perubahan drastis, dan Habibie, sosok yang selama zaman Orde Baru dikenal amat dekat dengan Soeharto, ingin mengungkapkan babak sejarah penting itu kepada publik. Tentu menurut versinya.

Memang tak semua orang suka Habibie, apalagi bagi pihak yang dalam buku bekas Presiden RI ini digambarkan dengan tinta hitam. Jenderal Prabowo, misalnya, amat gusar oleh insinuasi yang terpancar dari catatan Habibie itu, yang menyiratkan tudingan bahwa ia menyiapkan sebuah kudeta.

Prabowo telah membantah tudingan tak langsung itu dan minta agar buku itu direvisi. Habibie menolak. Prabowo pun memutuskan untuk melakukan klarifikasi dengan menulis buku juga. Dapat diduga, kisah itu tentu diharapkannya akan membuat citra dirinya lebih kinclong dan lawan-lawannya pada masa itu lebih kelam. Orang ramai pun dipersilakan mengambil kesimpulan sendiri, buku siapa yang dapat dipercaya dan yang tidak.

Harus diakui, Habibie, Wiranto, dan Prabowo adalah tiga tokoh penting pada masa transisi itu. Tinggal Prabowo yang belum menulis buku. Sebagai jenderal yang ketika itu paling banyak membawahkan pasukan, bekas menantu Soeharto ini punya kekuatan militer terkuat namun tak punya legitimasi untuk mengambil alih kekuasaan. Jenderal Wiranto, yang mendapat surat perintah Soeharto untuk mengambil alih keamanan, memiliki legitimasi itu tapi tak diyakini mendapat dukungan kuat dari pasukan TNI. B.J. Habibie, sebagai wakil presiden, adalah sosok yang secara konstitusional paling berhak mengisi posisi presiden, setelah Soeharto menyatakan berhenti. Namun, ia dianggap masyarakat sebagai orang terdekat Soeharto, hingga mendapat penolakan dari para aktivis penggerak reformasi.

Habibie bertahan di puncak kekuasaan tak sampai dua tahun. Pada masa pemerintahannya, pemilihan umum berlangsung dan berbagai ketetapan MPR maupun undang-undang yang bersifat reformis lahir di bawah tekanan demonstrasi mahasiswa yang terus membanjir. Pers Indonesia mendapatkan kembali kemerdekaan, dan hak-hak politik rakyat yang terpasung diraih kembali. Semua konsesi itu membuat Indonesia menjadi lebih demokratis sekaligus membuat masa kepresidenan Habibie berhenti karena laporan pertanggungjawabannya ditolak MPR

Habibie, pada akhirnya, hanya menjadi presiden untuk masa transisi. Bukunya adalah kisah kenaikannya menjadi presiden dan apa yang terjadi pada masa pemerintahannya. Jelas tak semua kejadian diceritakannya dengan gamblang. Habibie sendiri mengakui buku itu hanya mengungkapkan sekitar 70 persen dari catatannya. Sisanya, kata Habibie, hanya akan dilontarkan ke orang ramai jika ia yakin hal itu tak akan mengganggu ketenteraman masyarakat berdemokrasi.

Belum jelas benar informasi apa saja yang masih disembunyikan Habibie. Kalaupun komentar berbagai pelaku penting pada masa itu tentang buku ini yang jadi patokan, kelihatannya yang masih gelap adalah mengenai apa yang akhirnya menyebabkan Soeharto memutuskan berhenti dan mengapa hubungannya dengan Habibie setelah ia berhenti berubah seratus delapan puluh derajat. Selain itu, ini yang paling penting, mengapa tentara terkesan membiarkan kerusuhan Mei 1998 terjadi.

Posisi tentara dan polisi pada masa itu memang tak mudah. Krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis keuangan telah membuat gelombang protes terhadap kepemimpinan Soeharto yang dianggap korup terus membesar. Keadaan ini membuat posisi TNI tersudut: mendukung Soeharto berarti harus bertindak keras pada aktivis reformasi dan membuat kebencian rakyat terhadap TNI terus meninggi. Ini berisiko TNI ikut tenggelam bersama jatuhnya pemerintahan Soeharto. Pilihan lain meminta kerelaan Soeharto berhenti, dan itu hanya dapat dilakukan jika TNI menjamin keselamatan keluarga Cendana pada era pasca-Soeharto.

Entah secara sengaja atau karena kecelakaan sejarah, TNI tampaknya mengambil pilihan kedua. Soeharto menyatakan berhenti dan Panglima TNI menyatakan jaminan perlindungan bagi mantan Presiden RI itu bersama keluarganya. Tentang bagaimana para petinggi TNI yang saat itu terdiri dari sedikitnya dua faksi yang bersaing akhirnya mencapai kesepakatan, ini belum terungkap dengan jelas. Mudah-mudahan mereka akan terpicu untuk menuliskan pengalaman masing-masing seperti yang telah dilakukan Habibie.

Harapan ini mungkin terlalu berlebihan, mengingat masa transisi itu juga diwarnai oleh berbagai peristiwa kriminal seperti penculikan dan penghilangan sejumlah aktivis, kerusuhan, serta penembakan mahasiswa. Itu sebabnya pemerintah sebaiknya segera menyusun komisi kebenaran dan rekonsiliasi untuk membuat sejarah gelap bangsa ini menjadi terang-benderang. Kita telah mengalami sebuah peristiwa yang begitu mahal harganya, alangkah celakanya bangsa ini bila kita tak menarik pelajaran dari pengalaman buruk itu.

Lengsernya Soeharto

Artikel dibawah ini dikutip dari Laporan Utama Majalah Tempo Edisi. 33/XXXV/09 - 15 Oktober 2006.


Satu Babak Sebelum Lengser

Kontroversi seputar buku mantan presiden Habibie menyingkap fakta baru sejarah Mei 1998. Pihak militer disebut-sebut berperan mempercepat pergantian rezim. Dua mayor jenderal dan sejumlah kolonel diduga ”membiarkan” mahasiswa merajai Senayan. Tempo mencoba memotret momen-momen penting 24 jam menjelang lengsernya Soeharto.

Soeharto melangkah ke kamar kerjanya. Lalu jenderal besar itu kembali dengan dua surat di tangan. Isinya, instruksi pembentukan Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional. Satu surat dia sodorkan kepada Jenderal Wiranto, Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan dan Keamanan. Satunya lagi dia ulurkan ke Jenderal Subagyo Hadisiswoyo, Kepala Staf Angkatan Darat.

Soeharto mewanti-wanti Wiranto saat surat berpindah tangan: ”Mbok menowo mengko ono gunane—siapa tahu kelak ada gunanya,” sumber Tempo yang hadir di ruangan menirukan ucapan Soeharto dalam bahasa Jawa. Melalui surat itu, Wiranto dilimpahi wewenang sebagai Panglima Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional. Kedudukan ini memberi dia kekuasaan hampir tak terbatas untuk menjaga keterbitan negara.

Penanggalan hari itu 20 Mei 1998, menjelang tengah malam. Senyap meliputi seantero Jalan Cendana 10, Jakarta Pusat kediaman pribadi keluarga Presiden. Soeharto duduk. Wajahnya pias. Bahunya luruh. Dia berkata dengan pelan: ”Saya sudah bicara dengan anak-anak. Saya akan mundur besok agar tidak ada korban lebih besar,” sumber Tempo kembali menirukan ujaran Soeharto.

Wiranto mengeluarkan secarik kertas dari saku. Rupanya ia sudah menyiapkan catatan. Dia berkata kepada Presiden: ”ABRI akan melindungi semua mantan presiden beserta keluarganya.” Soeharto mengangguk. Di sudut ruangan Siti Hediati ”Titiek” Harijadi meneteskan air mata. Putri Soeharto itu menangis dengan suara tertahan. Komandan Pasukan Pengamanan Presiden Mayor Jenderal Endriartono Sutarto hadir pula di ruangan itu.

Pertemuan selesai. Wiranto dan Subagyo meninggalkan Jalan Cendana. Tengah malam sudah lewat.

Penanggalan berganti ke 21 Mei 1998.

l l l

Sembilan jam kemudian Bacharuddin Jusuf Habibie disumpah di Istana Merdeka sebagai Presiden Indonesia ketiga. Tongkat estafet berpindah tangan. Tapi Soeharto sejatinya sudah menyerah pada malam sebelumnya. Semua pilar kekuasaan yang dia bangun sejak 12 Maret 1967 runtuh. Golongan Karya, kekuatan politik utama yang selama bertahun-tahun menopangnya, telah berpaling. Empat belas menteri meninggalkan dia.

Tiga hari sebelumnya di Senayan Ketua MPR/DPR Harmoko bersama pimpinan Dewan lain meminta Soeharto turun takhta. Padahal, selama belasan tahun Harmoko membuktikan diri sebagai pembantu yang amat takzim. Bekas Menteri Penerangan itu adalah salah satu confidant, orang kepercayaan Soeharto selama separuh lebih masa kepresidenannya.

Dari Jalan Cendana, Soeharto menyaksikan semua kartu as lepas dari tangannya. Salah satu yang utama, faktor ekonomi. Indonesia pernah dijuluki ”Macan Asia” karena keperkasaan negeri ini di bidang ekonomi. Sejarah pertumbuhan pada awal era Orde Baru pernah mencatat sejumlah prestasi. Ekonom Emil Salim pernah menulis bahwa indeks biaya hidup di Indonesia antara tahun 1960 dan 1966 naik 438 kali lipat.

Pemerintah saat itu menggulirkan antara lain kebijakan deregulasi dan debirokratisasi untuk menyelamatkan ekonomi. Sebut contoh, Paket 10 Februari dan 28 Juli 1967. Pemerintah membuka diri untuk penanaman modal asing secara bertahap. Dengan cara itu, inflasi bisa dijinakkan perlahan-lahan. Dari sekitar angka 650 persen (1966) hingga terkendali di posisi 13 persen (1969). ”Ini prestasi yang diraih pemerintah saat itu,” tulis Emil.

Hampir tiga dekade kemudian, Soeharto turun panggung dengan utang Republik tak terkira. Utang baru US$ 43 miliar (kini setara Rp 387 triliun) dari Dana Moneter Internasional, IMF, tak mampu menyangga nilai rupiah. Hari itu, 21 Mei 1998, pasar uang menutup transaksi dengan Rp 11.236 per dolar AS—terjun bebas dari Rp 2.500 per dolar AS. Pada awal 1998, rupiah sampai terjengkang ke jurang: Rp 17.000 per dolar AS.

Seorang pakar sistem dewan mata uang (currency board system/CBS) asal Amerika, Steve Hanke, didatangkan ke Indonesia menjelang kejatuhan Soeharto. Berkali-kali dia mengingatkan Soeharto agar tak mempercayai IMF, karena lembaga ini khawatir CBS bakal sukses diterapkan di Indonesia. ”Washington punya kepentingan agar krisis berlangsung terus sehingga Anda jatuh,” kata Hanke kepada Soeharto seperti diulanginya kepada Tempo, Jumat pekan lalu.

Soeharto percaya. Dan Hanke diangkat sebagai penasihat khusus. Ia bahkan sempat menyebut CBS dalam pidatonya di depan Sidang Umum MPR 1 Maret 1998. Tapi utang terus melemahkan posisi Soeharto. Sembari para sekutunya lepas satu-satu.

Seakan belum cukup semua bala, Soeharto ditinggalkan pula oleh pilar yang dibinanya selama puluhan tahun: ABRI. Seorang jenderal purnawirawan yang cukup berperan pada era 1998 membuka ceritera ini kepada Tempo pekan lalu. ”ABRI,” kata jenderal itu, ”satu-satunya kekuatan yang disangka Pak Harto masih mendukungnya, juga meninggalkan dia.” Itulah pukulan telak terakhir yang menghantam jenderal tua yang sudah goyah itu.

Maka, pada Kamis malam 20 Mei—sebelum dia memanggil Wiranto dan Subagyo—Soeharto mengumpulkan putra-putri dan kerabatnya. Seorang tokoh dari lingkar dalam Cendana menuturkan kembali kenangan delapan tahun silam itu kepada Tempo, pekan lalu: ”Titiek dan Mamiek (nama kecil Siti Hutami Adiningsih) menangis selama pertemuan.”

Dia juga menirukan kata-kata putra ketiga Soeharto, Bambang Trihatmodjo, yang bertanya kenapa ayahnya tidak mundur sesuai dengan jadwal. Siti ”Tutut” Hardijanti Rukmana, anak sulung keluarga Cendana, membuka suara: ”Sama saja, besok atau lusa Bapak harus mundur!”

Jadwal yang dimaksudkan Bambang adalah skenario awal mundurnya Soeharto yang telah disampaikan mantan presiden itu kepada keluarganya. Yakni, mengumumkan pembentukan Komite Reformasi pada 21 Mei, merombak kabinet pada 22 Mei. Dan, lengser pada 23 Mei.

Soeharto ternyata mundur lebih cepat.

Ahli ilmu pemerintahan Ryaas Rasyid, yang dulu dekat dengan kalangan militer, menyatakan bahwa ABRI memang sudah sepakat agar Soeharto mundur. Ia menuturkan, pertemuan di Jalan Merdeka Barat pada 20 Mei malam yang dihadiri Jenderal Wiranto, Letnan Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono kini Presiden RI. Juga, Mayor Jenderal Agus Widjojo dan Letnan Jenderal Hari Sabarno.

Ryaas hadir bersama pakar hukum tata negara Harun Alrasid, Rektor Universitas Indonesia Asman Boedisantoso, dan pengamat militer Salim Said. Ryaas dan kawan-kawannya menanyakan sikap ABRI jika Habibie menjadi presiden. Yudhoyono saat itu menjawab: ”Kami bisa menerima.” Wiranto, menurut Ryaas, mengiyakan jawaban Kepala Staf Sosial Politik ABRI itu.

Menurut Ryaas, dia dan rekan-rekannya bertanya lagi kapan kira-kira menurut ABRI Soeharto akan turun. Yudhoyono kembali menjawab: ”Enam bulan sampai setahun lagi.” Jawaban ini, menurut Ryaas, cocok dengan pembawaan Yudhoyono yang dikenal sebagai sosok moderat. Hasil pertemuan ini yang kemudian disampaikan kepada Soeharto.

Nah, kondisi tentara sendiri saat itu terbelah. Jenderal Subagyo menyebut adanya faksi Wiranto dan faksi Letnan Jenderal Prabowo Subianto, Panglima Kostrad. ”Saya di tengah-tengah,” tulisnya dalam buku KSAD dari Piyungan.

Mayor Jenderal Kivlan Zen, mantan Kepala Staf Kostrad, berada di kelompok Prabowo bersama sejumlah jenderal lain. Ketika ribuan mahasiswa menduduki gedung parlemen, ia mengaku menggalang sejumlah organisasi massa pro-Soeharto merebut kembali gedung parlemen dari tangan mahasiswa. Tapi massa ini urung beraksi karena Soeharto mundur lebih cepat.

Kivlan mengaku mati-matian mencegah demonstrasi yang digalang Amien Rais, Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, pada 20 Mei di kawasan Monas. Ia memerintahkan pasukannya membawa peluru tajam untuk menghadang massa. ”Saya sempat meminta Prabowo menemui Amien agar membatalkan niatnya. Jika tidak, dia bisa ditembak anak buah saya atau saya tangkap,” ujar Kivlan kepada Tempo. Dia juga mengatur agar tank dan panser ditempatkan di pusat kota. ”Lindas mereka yang memaksa masuk Monas dengan tank!,” ujar Kivlan kepada pasukannya saat itu.

Aksi sejuta orang di Monas kemudian batal. Namun Soeharto kian terdesak ke tubir jurang. Sejumlah orang yang dihubungi untuk menjadi anggota Komite Reformasi menolak. Ada 14 menteri ekonomi pimpinan Ginandjar Kartasasmita tidak bersedia bergabung dalam kabinet baru Soeharto.

Selepas magrib 20 Mei, Prabowo yang masih mengenakan pakaian tempur loreng menemui Habibie di Patra Kuningan. ”Pak, kemungkian besar Pak Tua akan turun,” tulisnya dalam Buku Putih Prabowo, 1999. Habibie menyatakan siap menggantikan Soeharto.

Dari Kuningan, ia menuju Cendana. Prabowo mengira bakal mendapat pujian karena sudah menggagalkan demonstrasi. Nyatanya, yang dia dapatkan adalah ”kejutan”. Di ruang keluarga, Soeharto sedang duduk bersama Wiranto dan putra-putri Cendana. Jenderal yang dijuluki The Rising Star itu dianggap pecundang di depan keluarga istrinya.

Soeharto kemudian menunjuk bekas ajudannya itu menjadi Panglima Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional di detik-detik terakhir kekuasaannya. Dengan kuasa itu, Wiranto bisa memerintahkan semua menteri dan pemimpin lembaga pemerintahan dari pusat hingga daerah untuk membantu tugasnya.

Tapi Wiranto tidak memakainya.

Pada 21 Mei pukul 09.00 WIB Soeharto menyatakan mundur. Habibie mengucapkan sumpah di depan podium. Sesaat setelah itu, Wiranto mengambil alih mikrofon. Lalu berkata: ”ABRI tetap menjaga keselamatan dan kehormatan para mantan presiden, termasuk mantan presiden Soeharto dan keluarga.”

”Pertempuran” satu babak di lingkar elite menjelang lengsernya Jenderal Soeharto usai sudah. Dan Wiranto keluar sebagai pemenang.

Setidaknya, untuk saat itu.

Budi Setyarso, Wahyu Dhyatmika, HYK

Perintah Siapa

Komando pergerakan pasukan ABRI di Jakarta sejak 14 Mei 1998 ada di tangan Panglima Komando Operasi Jaya Letnan Jenderal TNI Sjafrie Sjamsoeddin, yang juga Panglima Kodam Jaya. Inilah pernyataan sejumlah petinggi di lingkaran elite militer berkaitan dengan tugas mereka di masa genting itu.

Wiranto (Jenderal)
Panglima ABRI

Tugas: Penanggung jawab tertinggi pertahanan dan keamanan RI. Semua pergerakan pasukan saat itu harus seizin Panglima.

Pernyataan: ”Ada laporan yang valid tentang pengerahan kekuatan pasukan Kostrad di Jakarta yang tidak dilaporkan ke Mabes ABRI.… Fakta ini merupakan sesuatu yang boleh dianggap sebagai insubordinasi.”

Fachrul Razi (Letnan Jenderal)
Kepala Staf Umum ABRI

Tugas: Penanggung jawab operasional pasukan ABRI.

Soebagyo H.S. (Jenderal)
Kepala Staf Angkatan Darat

Tugas:Membina pasukan TNI Angkatan Darat.

Pernyataan: ”Penempatan semua pasukan sudah ditetapkan, yaitu berada di bawah kendali Panglima Komando Operasi.”

Prabowo Subianto (Letnan Jenderal)
Panglima Kostrad

Tugas: Mempersiapkan pasukan yang diperbantukan atau di bawah kendali operasi kepada Panglima Kodam.

Pernyataan: ”Tidak ada pergerakan pasukan di luar komando. Semua di bawah kendali Panglima Kodam. Seandainya ada, untuk apa? Apa mau kudeta?”

Sjafrie Sjamsoeddin (Mayjen)
Panglima Kodam Jaya Sekaligus Panglima Komando Operasi Jaya

Tugas: Memulihkan keamanan Ibu Kota dan mengendalikan semua pasukan di Jakarta.

Pernyataan: ”Saya tahu betul penempatan dan kedudukan semua pasukan. Saya tidak khawatir. Kalau ada pasukan tidak terkendali, dari mana datangnya?

Kivlan Zein (Mayjen)
Kepala Staf Kostrad

Tugas: Menangani urusan internal dan menjadi orang kedua dalam alur komando Kostrad.

Pernyataan: ”Semua pasukan Kostrad didatangkan ke Jakarta atas permintaan Panglima Komando Operasi. Setelah diserahkan, saya tidak tahu lagi urusannya.”

Mengepung Jakarta

Kerusuhan di Ibu Kota pada 13-14 Mei 1998 masih menyimpan sejumlah tanda tanya. Ada yang menyebut polisi sengaja diperintahkan mundur agar api bebas melalap Jakarta. Ada yang curiga beberapa titik kerusuhan sengaja disulut. Di manakah tentara ketika itu?

12 Mei
Kostrad hanya memiliki tiga kompi (1 kompi = 100 orang) pasukan di Jakarta.

13 Mei
Empat batalion (1 batalion = 700–1.000 orang) pasukan Kostrad dari Yon Arhanudri 1/Kostrad, Batalion Infanteri (Yonif) 305 dan Yonif 328 yang bermarkas di Cilodong, Jawa Barat, bergerak ke Jakarta.

14 Mei
Lima batalion dikirim dari Jawa Barat (Yon 303 dari Garut, Yon 321 dari Tasikmalaya, dan Yon 323 dari Ciamis)

14 Mei
Lima batalion pasukan Kostrad dikirim dari Jawa Tengah (Solo, Salatiga, Purwokerto)

15 Mei
Lima batalion pasukan Kostrad tiba di Jakarta. Mereka didatangkan dari Jawa Timur dengan pesawat terbang (pasukan Brigade Infanteri Lintas Udara ke-18 dan Yonif 502 dari Malang, Yonif 501 dari Madiun, Yonif 503 dari Mojokerto)

15 Mei
Bantuan pasukan didatangkan dari Yonif 721 di Makassar dengan pesawat carteran.

16 Mei
Kostrad memiliki 20 batalion pasukan di Jakarta.

Sunday, October 08, 2006

MISTERI MUNIR
Amien Bilang Omongan SBY Non Sense

Laporan: Zul Sikumbang

Jakarta, Rakyat Merdeka. Bekas Ketua MPR Amien Rais menilai Presiden SBY non sense terkait omongannya bahwa pemerintah sekarang ini sudah berubah dan sudah bukan Orde Baru lagi. Hal itu dikatakan Amien dalam konteks penuntasan kasus pembunuhan aktivis HAM Munir.

“Ya maaf, omong kosong, kalau kasus ini gagal diselesaikan maka yang dikatakan Pak SBY bahwa kita telah berubah, kita bukan Orba lagi, nonsense,” kata Amien dalam acara buka puasa bersama di rumah Sekjen PAN Zulkifli Hasan, Kompleks Cipinang Indah I Jakarta Timur, Minggu malam (8/10).

Oleh karenanya, dia meminta Presiden SBY bersungguh-sungguh, dengan mengambil alih pengusutan dan penyidikan kasus pembunuhan Munir. “Saya minta kasus ini diselesaikan dengan sungguh-sungguh, dan SBY tidak bisa lagi mengelak, pak Susilo harus ambil alih kasus ini,” kata dia.

Amien menilai, SBY tidak bisa mengembankan tugas pengungkapan kasus pembunuhan Munir kepada Kapolri Sutanto saja. Sebab, Kapolri hanya sebagai pembantu Presiden yang tidak akan berdaya menghadapi orang-orang gede yang berpengaruh, yang diduga sebagai pelaku pembunuh Munir.

“Kasihan kepada Kapolri, karena yang terlibat dalam pembunuhan Munir, pasti orang-orang gedean. Jadi lebih otoritasnya dan berbobot kalau SBY ambil alih…Kita tidak tahu orangnya (pelaku pembunuhan Munir), tapi pasti orang besar, dan itulah permintaan masyarakat kepada SBY,” tandas Amien.

Kasus Munir merupakan salah satu contoh dan ujian dalam penegakan hukum di Indonesia. Amien khawatir, kasus ini akan hilang begitu saja, tanpa ada kejelasan.

Sedangkan soal revitalisasi seperti yang dikatakan SBY, menurut Amien, itu adalah sebuah istilah yang tidak pas lagi. Yang paling penting dilakukan SBY sekarang ini, kata dia, adalah mengatakan “yes or no” terhadap kasus Munir.

Dia mendesak agar Presiden SBY segera memimpin tim koordinasi dan mendesak kepada kejaksaan agung, kehakiman, dan kepolisian untuk segera mengungkap tuntas kasus ini. adi

Thursday, September 21, 2006

Sarina Si Tetangga Ngehek

Kualalumpur.Gak ada momen pencerahan terdahsyat di dunia ini, selain yang dialami Datin Sarina. Perempuan 45 tahun, ratu gosip, berperawakan gemuk pendek, itu memupuk kebiasaan bergunjing selama bertahun-tahun. Kehebatannya dalam bergunjing itu, barangkali melebihi produser infotainment manapun, kendati, si nyonya yang selalu berlagak suci ini, bukanlah pemain di industri paling ngehe itu.

Sarina, dengan sepatu hak tingginya (15cm), dibungkus pakaian berwarna mencolok (kadang biru hijau, kadang merah menyalak, atau kuning menggonggong), tak membiarkan sedetikpun waktu berlalu tanpa mendapatkan info terbaru tentang tetangganya.

Baru setelah kedatangan tetangganya, dan menyaksikan momen itu, tercerahkanlah dia. Momen apakah itu? Sebuah adegan persetubuhan lelaki dengan wadam, alias banci! Hah? Kok bisa? Ikuti cerita selanjutnya...

Wednesday, September 20, 2006

Bokek, Amien Rais Kapok Ikut Pilpres Lagi

Amien Rais kapok ikut Pilpres lagi. Dulu bisa ikut dengan modal enam miliar. Tapi, kalah. Sekarang gak punya cukup uang untuk memenangi pertarungan. Jadi deh, Amien Rais kapok ikut Pilpres 2009.

Jakarta.“KARENA ongkos memenangkan pilpres ter­nya­ta ratusan miliar. Andaikata saya maju dengan enam miliar seperti dulu paling-paling saya kalah lagi. Jadi saya nggak berminat karena nggak ada uang,” kata Amien Rais usai diskusi Dialektika Demokrasi di Pressroom, Nusantara III, Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta, kemarin.

Kendati demikian, bekas Ketua MPR itu meng­aku akan mengambil keputusan akhir ma­ju sebagai calon presiden pada awal 2009. “Itu jawabannya enam bulan sebelum pe­mi­lihan presiden.”

Ditanya apakah SBY layak dipertahankan, Amien malah menganjurkan harus adanya ca­lon alternatif untuk menggantikan SBY sebagai orang nomor satu di republik ini.

“Kita agak kecewa barang kali ya sekalipun pi­lihan sudah langsung oleh rakyat tapi sudah dua tahun belum ada perbaikan, belum ada pe­ru­bahan. Sehingga sebaiknya harus ada tampil penantang ya supaya ada alternatif. Sebab kalau tidak ada penantang yang sekarang enak-enakan dipilih lagi. Wah bisa berabe.”

Mengenai siapa yang cocok untuk peng­ganti SBY, bekas ketua umum DPP PAN ini menyatakan, siapapun orang­nya, penantang SBY haruslah figur yang tidak mengecewakan rakyat.

Ciri-cirinya seperti apa?

“Pemimpin yang bisa memegang amanat sungguh-sungguh dan tidak mengecewakan. Penantang yang betul-betul satu antara kata dan perbuatan, jangan sampai ka­tanya bela rakyat ternyata suka jalan-ja­lan ke luar negeri.”

Ciri lainnya?

“Pemimpin yang tidak per­nah berhutang ke konglomerat hi­tam maupun kepada pihak asing. Se­hingga langkahnya ringan betul-betul mem­bela bangsanya sendiri tidak per­nah ewuh pakewuh apalagi takut ter­ha­dap korporasi asing atau kong­lo­me­rat hitam itu. Kemudian pimpinan yang di­dukung oleh sebagian besar rakyat, pimpinan yang diterima oleh hampir se­mua elemen bangsa. Dan pemimpin yang betul-betul 24 jam berpikir untuk kesejahteraan bangsa sendiri bukan keluarga atau kelompok sendiri.”

Amien juga yakin, kalau dicari tokoh ideal seperti itu pasti ada. ‘’Syukur-syukur yang lebih muda sehingga ada regenerasi.”

Menyinggung soal reshuffle, ia me­nya­takan, reshuffle ada resikonya, ka­lau hanya mengganti menteri secara ecek-ecek malah akan jadi sandiwara po­litik yang memilukan rakyat. Tetapi ka­lau reshuffle sungguh-sungguh di­pikir dengan tenang dan menteri-men­teri strategis yang selama ini membuat kita bonyok itu diganti dengan menteri bagus maka rakyat akan lega.

‘’Tapi kalau cuma like and dislike, lobby-lobby parpol yang hanya me­nam­bah runyam saja, saya kira reshuffle tidak diperlukan. Di atas reshuffle menteri ada yang lebih penting, Pak Su­silo dan Pak Jusuf Kalla harus ban­ting setir.”

Banting setir?

Ya, sebab selama ini sudah keliru, karena pengangguran ber­tambah, kemiskinan meluas, ke­ru­sa­kan lingkungan hancur-hancuran, in­vestor asing tidak pernah mau datang ke Indonesia. Penegakan hukum juga ada tebang pilih. Ada menteri yang ha­rus dibawa ke meja hijau malah di­lindungi dan lain-lainlah.

Lantas, soal penghargaan IMF me­nilai Sri Mulyani sebagai menteri ke­uangan terbaik di Asia?

Menurut sa­ya kita harus hati-hati. Biasanya kalau ki­ta dipuji-puji Barat itu malah artinya ki­ta telah menjadi fasilitator dan agen Barat. Tapi kalau tidak disukai Barat mungkin itu pahlawan nasional. Bisa saja itu untuk mengamankan posisinya agen Barat di Kabinet. Jadi kalau ada menteri yang dipuji atau presiden kita mau dapat penghargaan harus hat-hati. Jangan itu adalah pujian yang menyesatkan.

Ngomong-ngomong Anda bersedia diangkat menjadi penasehat presiden nggak?

Oh nggak-nggak. RM

SBY Bangga, Pasukan TNI Tahan Ulat dan Makan Ubi Pun Jadi

Jakarta. Di depan rapat pimpinan TNI di Mabes Cilangkap, Rabu siang (20/9), Presiden SBY dengan bangga memuji pasukan TNI. Dalam sejumlah misi perdamaian PBB, kata SBY, pasukan asal Indonesia kerap mendapat pujian internasional dan dapat dibanggakan.

“Dibanding pasukan dari negara lain, pasukan kita adalah pasukan yang teruji. Tentara kita tahan ulat, tentara dari negara lain kalau tidak ketemu coca cola lemes. Kalau tidak ketemu beef (daging sapi), lemas. Pasukan kita (makan) ubi pun jadi,” kata SBY, saat memberi pengarahan kepada pasukan TNI yang akan dikirim ke Lebanon.

Ketahanan fisik itu, lanjut SBY, membuat dirinya memiliki kebanggaan terhadap prajurit TNI. Namun demikian, lanjut SBY, dalam perang itu tidak hanya mengandalkan fisik tapi juga non fisik.

Ia mencontohkan sewaktu dirinya bertugas di Bosnia. "Saya bangga (kita) tidak kalah dengan kontingen negara lain. Walaupun kalau pake baju koplok-koplok (kebesaran-red), tapi prestasinya luar biasa,” kata dia.

Dalam rapim tersebut, SBY juga memberikan arahan soal pengetahuan geografi dunia. Dia memaparkan peta dunia sembari menjelaskan satu persatu kepada para tentara di GOR Ahmad Yani Mabes Cilangkap.

SBY menambahkan, dalam konteks penguatan TNI, yang diperlukan bukan cuma soal penambahan jumlah pasukan, akan tetapi juga peningkatan ilmu dan teknologi. zul/adi

Monday, September 18, 2006

Kakek Umur 103 Tahun, Masih Giat Jadi Tukang Kebun

London. Entah apa rahasianya, namun kakek ini mampu mengerjakan pekerjaannya sebagai tukang kebun tanpa kenal lelah. Padahal usianya lebih dari satu abad lho.

Jim Webber telah akrab dengan tanaman sejak berumur 12 tahun. Ketika itu dia bekerja di sebuah ladang di kampung halamannya di pedalaman Inggris.

Kini, Jim dipercaya untuk menjaga dan menata taman seluas setengah hektar di sebuah pub di Stoke Abbot, Inggris. Dengan sigap, kakek ini mengoperasikan mesin pemotong tanaman termasuk gergaji mesin dan traktor. Demikian diberitakan The Sun, Senin (18/9/2006).

Yang patut diacungi jempol, pria tua ini tak pernah mengambil jatah liburnya. Jadi dia bekerja setiap hari kecuali ketika dia sakit. Dia pun menolak untuk dibayar lebih dari 3 Poundsterling per hari.

Ditanya kapan dirinya akan pensiun, dia menjawab dengan bergurau. "Aku akan pensiun kalau sudah tua nanti," ujarnya sambil tertawa.

Pria yang juga mempunyai perkebunan ini mengatakan, salah satu alasan kenapa dia bekerja adalah untuk mengisi hari-hari tuanya. Menurutnya, jika dia menganggur maka dirinya akan merasa tua dan bosan, karena tak melakukan apa-apa.

"Jim sangat menakjubkan. Dia melakukan apa-apa sendiri dan pekerjaannya sangat rapi," tutur Mary Ward, wanita yang kini mempekerjakan Webber.

Putri Jim, Kathy (68) mengatakan, ayahnya sangat menyukai pekerjaan itu. Oleh karena itu dia rela bangun pagi-pagi dan kembali bekerja lagi. Padahal tak jarang si kakek ini tidur dinihari. Hebat! ana/sdy

Nenek-nenek Coba Rampok Bank

Chicago. Rasanya hidup di dunia ini semakin sulit, bahkan seorang wanita berusia 79 tahun pun berusaha merampok bank untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Waduh!

Peristiwa langka ini terjadi di Chicago AS. Seorang nenek-nenek terpaksa ditangkap polisi karena mencoba merampok bank dengan menggunakan senjata api jenis pistol.

Seperti diberitakan The Chicago Sun Times dan dilansir Ananova, Senin (11/9) wanita tersebut masuk ke dalam sebuah bank dan pura-pura mengambil uang. Dengan setengah berbisik dan mengeluarkan pistol dari tasnya, dia mengancam kasir bank itu.

"Beri saya 30 ribu dolar AS. Temanku berada di seberang jalan dan ini bukan main-main," kata wanita renta tersebut. Namun, petugas kasir bank itu tak kalah cerdik. Sebelum dia menyerahkan uang itu dia telah menekan tombol alarm yang berguna untuk memanggil polisi ke tempat tersebut.

Begitu meninggalkan bank dengan hasil jarahannya, wanita yang pantas duduk di panti jompo ini langsung disergap oleh polisi. Polisi pun kabarnya dapat membekuk nenek itu tanpa perlawanan berarti.

Kini, alih-alih mendapatkan uang, wanita tersebut bersama rekannya harus menginap di hotel prodeo untuk menjalani proses lebih lanjut. Disinyalir, aksi unik ini menobatkan wanita itu sebagai perampok tertua di Chicago. ana/sdy

Friday, August 25, 2006

Masya Allah, Striptis di Atas Kuburan

Beijing. Tarian telanjang atau striptis biasanya disuguhkan di tempat hiburan. Tetapi, tidak demikian di Tiongkok. Atraksi itu justru disuguhkan ketika upacara pemakaman di Kota Donghai, Provinsi Jiangsu, kemarin (Kamis, 24/8). Polisi pun menangkap lima orang dan menghentikan suguhan striptis saat pemakaman tersebut.

Penggerebekan yang dilakukan polisi terjadi setelah stasiun televisi negara menayangkan pertunjukan striptis saat pemakaman. Penontonnya saat itu lebih dari 200 orang. Sebagian di antara mereka anak-anak. Mereka antusias berkerumun di depan panggung.

"Ketika pertunjukan mencapai puncak, dua penari memulai atraksi striptis. Bahkan, mereka mengundang penonton untuk naik ke panggung," tulis koran Beijing News, mengutip televisi.

Warga Donghai punya alasan untuk menggelar pertunjukan itu saat pemakaman. Mereka beralasan untuk menarik lebih banyak orang agar datang melayat.

Menurut kantor berita Xinhua, tarian striptis tersebut sering dipertunjukkan di Kota Donghai.

"Warga percaya, makin banyak orang yang datang melayat, maka orang yang meninggal semakin dihormati," kata Xinhua.

Tradisi itu biasanya dilakukan oleh keluarga kaya. Mereka mendatangkan dua penari untuk beraksi di panggung. Tradisi serupa juga dilaksanakan di beberapa wilayah Taiwan.

Setelah munculnya tayangan televisi itu, pemerintah Donghai membuat peraturan daerah (perda) baru. Praktik striptis saat acara pemakaman dilarang sama sekali. Mulai sekarang, warga yang akan mengadakan proses pemakaman diwajibkan melapor dalam 12 jam pasca kematian kerabat mereka.

"Saluran telepon khusus juga dibuka bagi warga untuk melaporkan tradisi tersebut," tulis Xinhua mengutip keterangan Pemda Donghai.

Hua ha ha....! afp